Oct
16
Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta dan tentu saja Harry Potter, adalah contoh terkini dari novel best seller yang kemudian diangkat ke layar lebar. Dan seperti novelnya, film Harry Potter dan Ayat-Ayat Cinta dibanjiri penonton dan membukukan pemasukan yang gemilang. Film Laskar Pelangi tengah membuktikan kesuksesan serupa. Namun, bagi sebagian pembaca novel Harry Potter, Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi, versi film dari novel-novel tersebut tidak seindah apa yang mereka rasakan kala membaca novel. Tapi, bagi saya ya memang pasti begitu.
Film merupakan media audio-visual yang komplit. Sedangkan novel adalah media teks semata. Jadi karakter jenis medianya saja sudah berbeda tentulah karakter media dimana kreativitas itu dituangkan juga akan berbeda pula. Jangkauan teks novel terbatas dibanding audio-visual film. Tapi inilah justru kelebihannya. Keterbatasan teks dapat memainkan pikiran pembacanya. Teks mampu membangun theatre of mind, sebuah panggung pertunjukan di kepala kita. Tepatnya di kepala masing-masing pembacanya.
Bila saya menulis “bunga”, belum tentu dalam kepala pembaca yang muncul adalah bunga melati. Jika saya menulis “taman itu dipenuhi bunga merah”, maka akan samakah gambaran taman, bunga dan merah yang ada dalam benak saya dengan Anda? Bagaimana pula jika saya menulis tak hanya sebuah kalimat, tapi ribuan paragraf yang mengisi ratusan halaman novel?
Maka saya sepakat dengan pendapat bahwa film Laskar Pelangi adalah filmnya Riri Riza sedangkan Novel Laskar Pelangi adalah novelnya Andrea hirata. Sama juga, film Ayat-Ayat Cinta bukanlah filmnya Habiburrahman El Shirazy, tapi ia filmnya Hanung Bramantyo. Karenanya Habiburrahman jadi kecewa dengan film Ayat-Ayat Cinta.
Membaca Laskar Pelangi berbeda dengan menontonnya. Karena di kepala masing-masing pembaca novel ada film mereka sendiri maka sebenarnya yang berbeda adalah film Laskar Pelanginya Riri Riza dengan film Laskar Pelangi di kepala saya dan Anda.
Bagi penulis cerita, theatre of mind di kepala pembaca akan lebih indah dan kaya bilamana deskripsi yang ia berikan terhindar dari detil yang tidak perlu. Menurut Anda, mana yang lebih imajinatif bagi pembaca. “Taman itu penuhi bunga” ataukah “taman berpagar bambu yang seluas lapangan bola itu dipenuhi bunga mawar merah darah pada bagian sisi-sisinya”?
Artikel Terkait
Komentar
3 tanggapan untuk “Film Laskar Pelangi Di Kepala Kita”
Tinggalkan pesan
aggh, pendapat orang berbeda-beda.
hemat saya, Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, dan Harry Potter merupakan film yg keren. top!
Belum bisa komen. Belum baca novel dan nonton filmnya. Kalo AAC dah nonton tapi belum baca novelnya.
Film laskar pelangi dan novelnya sama2 bagus. Riri Riza mengakui kretivitas andrea, dan begitu pula sebaliknya. Jadi soul mereka ketemu…
…Dan teman2 saya, yang sudah nonton, baik yang sudah baca novel atau belum sama sekali, sama2 nangis waktu liat Filmnya. Salute 2 Andrea and Riri Rizal
